Sinopsis 3600 Detik

3600 Detik


Sandra sangat terpukul ketika orang tuanya bercerai. Dan hatinya semakin sakit ketika ayahnya memutuskan ia harus tinggal bersama ibunya, yang selama ini tak pernah dekat dengannya. Kemarahan yang menggelora menjadikan Sandra remaja yang bandel. Berulang kali is di keluarkan dari sekolah karena kenakalannya yang di luar batas.

Akhirnya ibunya memutuskan untuk pindah kota. Mungkin suasana dan lingkungan baru akan mengubah perilaku putrinya. Namun di sekolahnya yang baru ini Sandra sudah bertekad untuk membuat dirinya di keluarkan lagi. Ia bertekad untuk membuat ulah agar para guru tak tahan terhadapnya. Namun ia salah perkiraan. Pak Donny sangat sabar menhadapinya. Wali kelasnya itu berpendapat, mengeluarkan Sandra berarti menuruti keinginan anak bandel ini.

Namun, lambat laun Sandra berubah. Orang tuanyapun heran. Mereka yakin Leon lah yang membuat gadis itu berubah. Mereka juga bertanya-tanya, kenapa Leon bisa bersahabat dengan Sandra, sementara murid-murid lain justru menjauhi gadis urakan itu. Apa yang membuat Leon tertarik padanya, padahal keduanya bagaikan bagaikan langit dan bumi. Leon adalah anak rumahan yang manis, bintang pelajar, sopan, tekun, berbeda seratus delapan puluh derajat dengan Sandra.

Sinopsis Sunshine Becomes You

Alex Hirano awalnya merasa tidak ada yang istimewa dalam hidupnya, aktivitasnya hanya  berputar dari musik dan pianonya. Tapi itu semua berubah sejak ia bertemu dengan gadis yang dikatakan Ray Hirano adiknya, sebagai gadis yang disukainya. Mia Clark, sejak pertama kali bertemu, Alex sudah merasa gadis itu bencana untuknya, seperti malaikat kegelapan yang kapan pun dapat melukainya. Apa yang dikatakan Alex bukan tanpa alasan, Mia Clark sudah membuat tangan kirinya menjadi tak berfungsi dipertemuan pertama mereka, dengan menjatuhkan diri dari atas tangga dan menimpa Alex.

Entah takdir seperti apa yang mengikat Alex dan Mia, yang pasti sejak saat itu Alex tidak pernah menyukai Mia, dia selalu merasa gadis itu bisa melukainya kapan saja, ia tidak peduli adiknya memiliki perasaan istimewa seperti apa untuk gadis itu. yang jelas baginya berada jauh-jauh dari gadis yang membuat semua rencana konsernya berantakan dengan mencederai tangannya, adalah pilihan yang terbaik.

Sayang harapan Alex untuk menjauhkan diri dari Mia yang belakangan ia juluki sebagai ‘Malaikat Kegelapan’ tidak berjalan sesuai harapan. Mia yang merasa sangat bersalah karena sudah menciderai tangan berharga dari seorang pianist terkenal, terus menawarkan bantuannya pada Alex, “Aku bisa menjadi tangan kirimu.” itu yang dikatakan gadis itu. Alex jelas menolak usulan gadis itu, ia merasa akan lebih baik tidak berhubungan lagi dengan gadis yang ia anggap akan mampu lebih banyak lagi menciderainya. Tapi gagasan itu tidak berlangsung lama, segala kesulitan dan kerepotan yang didapat Alex dalam beraktivitas dengan satu tangan, membuat Alex mau tidak mau dengan sangat terpaksa menerima tawaran Mia. Dan ia mulai menempatkan Mia sebagai ‘Pesuruh dan pengurus rumah’

Awalnya tidak ada yang berjalan baik dengan hubungan Alex dan Mia saat itu. Alex yang masih kesal dengan Mia yang sudah membuatnya tidak ubahnya orang cacat. Mia yang menganggap Alex terlalu berlebihan dengan cidera di tangannya, tidak pernah bersikap bersahabat satu sama lain. Hingga pada akhirnya Alex menemukan hal-hal menarik tentang gadis itu, ia bahkan terpesona saat melihat gadis itu menari dihadapannya, satu hal yang tadinya tidak pernah direncanakan Alex untuk terasa.
Seiring berjalannya waktu, pelan-pelan Alex mulai menyukai senyuman Mia, pelan-pelan mulai tergantung pada Mia, pelan-pelan mulai merasa keberadaan Mia sangat penting untuknya, dan dia mulai merasa Mia gadis yang sangat istimewa, hingga pada akhirnya ia merasa sanggup bersaingan dengan adiknya Ray untuk mempertahankan beradaan Mia di dekatnya.

Namun di tengah semua rasa yang dirasakan Alex, ia selalu merasa ada keraguan besar akan perasaan Mia padanya. Gadis itu selalu tersenyum, bicara dan menatap dengan cara yang sama pada semua orang, membuat Alex tidak merasa mendapat keistimewaan dari Mia. Terlepas dari semua keraguan yang ada, Alex menemukan fakta lain yang menghancurkan semua harapannya, fakta menyakitkan dari kondisi Mia yang membawa kemungkinan ia akan kehilangan Mia untuk selama-lamanya.

SINOPSIS NOVEL “HARIMAU HARIMAU” KARYA MOCTHAR LUBIS


Telah seminggu Haji Rakhmat (Pak Haji), Wak Katok, Sutan, Talib, Sanip, Buyung, Pak Balam berada di hutan mengumpulkan damar, tidak jauh dari pondok Wak Hitam. Mereka bertujuh disenangi dan dihormati orang-orang kampung karena mereka dikenal sebagai orang-orang sopan, mau bergaul, mau bergotong royong, dan taat dalam agama. Semua anak-anak muda itu adalah murid pencak silat Wak Katok. Mereka juga belajar ilmu sihir dan gaib padanya. Dan anggota rombongan yang ketujuh dan terakhir ialah Pak Bayam yang sebaya dengan Wak Katok. Orangnya pendiam dan kurus namun ia masih kuat untuk bekerja. Mereka bertujuh paling disenangi dan dihormati oleh orang-orang kampung karena mereka dikenal sebagai orang-orang sopan, mau bergaul, mau bergotong royong, dan taat dalam agama. Mereka semua sudah berkeluarga terkecuali Buyung.
 
Wak Katok mempunyai sebuah senapan yang paling ampuh di dalam kelompok tersebut. Senapan ini tidak jarang dipinjamkan kepada Buyung karena tahu bahwa ia sangat senang dan bahkan pandai menggunakan senapan.Karena mempunyai senapan itu, mereka sering berburu rusa dan babi. Babi ini sering masuk ke rumah Wak Hitam. Karena itu pula terjadi perkenalan dengan Wak Hitam, bahkan mereka sering memgimap di pondok Wak Hitam ini. Wak Hitam adalah seorang laki -laki yang berusia 70 tahun. Orangnya kurus, berkulit hitam, menyukai celana dan baju hitam. Ia senang tinggal berbulan-bulan di hutan atau di ladangnya bersama Siti Rubiyah, istri keempatnya yang cantik dan masih muda belia. Wak Hitam pandai menggunakan sihir dan memiliki ilmu gaib. Orang-orang percaya bahwa Wak Hitam senang tinggal di hutan karena ia memelihara jin, setan, iblis, dan harimau jadi-jadian.
 
Ada pula yang mengatakan bahwa Wak Hitam mempunyai anak buah bekas pemberontak yang menjadi perampok dan penyamum yamg tinggal di hutan. Di samping itu ada pula yang mengatakan bahwa Wak Hitam mempunyai tambang yang dirahasiakannya di dekat ladangnya. Mereka bertujuh sampai di pondok Wak Hitam sebelum malam tiba. Dengan gembira mereka menyantap masakan Rubiyah karena selama di hutan mereka belum pernah menikmati masakan yang enak. Buyung si rombongan anggota termuda dan satu-satunya yang masih bujangan, tergila-gila akan kecantikan Rubiyah. Dalam hatinya, ia membandingkan kelebihan Rubiyah dan Zaitun tunangannya di kampung.
 
Pada suatu hari mereka melihat hal-hal yang aneh ketika Wak Hitam sakit. Banyak orang yang berpakaian serba hitam datang ke pondok dan menyerahkan bungkusan rahasia kepada Wak Hitam. Mereka juga menjumpai seorang tukang cerita dan juru ramal di pondok tersebut. Berbagai ramalan disampaikan peramal itu tentang jalan hidup Buyung, Sutan, Talib, dan Sanip.
Rubiyah  menceritakan kalau dirinya juga jatuh ke tangan Wak Hitam dan penderitaan yang ditanggungnya. Buyung merasa tekah jatuh cinta dan merasa wajib melindungi menyelamatkan Rubiyah dari tangan Wak Hitam. Hati dan perasaan keduanya terpadu dan membeku. Setelah Buyung kembali ke tempat rombongan bermalam di hutan ia merasa bimbang dan menyesal telah berbuat dosa. Ia ingin membebaskan Rubiyah dengan menjadikannya sebagai istrinya.  Namun ia masih mencintai Zaitun
 
Paginya mereka pergi berburu ke tempat kumpulan rusa yang sekaligus juga kumpulan harimau. Setelah menunggu beberapa saat, Buyung berhasil membidik seekor rusa jantan. Mereka pun langsung ke tempat bermalam dan menguliti rusa tersebut di situ. Tapi tiba-tiba, mereka semua mendengar auman seekor harimau. Dengan cepat mereka memasak rusa tersebut dan langsung pergi. Setelah perjalanan setengah hari dan tak lagi mendengar suara harimau, mereka beristirahat untuk makan dan setelah selesai semuanya mereka langsung saja melanjutkan perjalanan untuk mencari tempat bermalam. Lalu mereka membuat sebuah pondok dan api unggun. Ketika Pak Balam buang hajat, harimau menerkam dan membawanya masuk ke dalam hutan.
 
Setelah mereka sadar, dengan cepat Wak Katok menembak ke arah harimau dan harimau tersebut akhirnya lari dan meninggalkan Pak Balam. Tubuhnya penuh luka, goresan, dan darah. Setelah sadar Pak Balam lalu berkata bahwa ia telah memiliki firasat sebelumnya. Lalu ia menceritakan mimpi-mimpi buruknya ketika masih di kampung dan di rumah Wak Hitam. Lalu Pak Balam meminta mereka semua untuk bertobat dan mengakui semua dosa-dosa yang mereka perbuat. Tapi tak ada satu orangpun yang mau mengakui dosa-dosanya.
 
Setelah sembahyang, lalu mengobati luka Pak Balam dan membuat usungan mereka lantas pergi. Keranjang damar mereka tinggalkan. Selama perjalanan, panas Pak Balam tak juga reda, mereka ingin cepat-cepat sampai kampung agar Pak Balam dapat segera diobati. Talib berada di barisan paling belakang, ketika ia hendak membuang air seni harimau telah membawanya lari. Mereka mengikuti jejak harimau tersebut, dan ia di tempat terbuka di dalam hutan mereka menemukan Talib yang sudah berlumuran darah. Karena kaget akan serangan rombongan itu, harimau lantas pergi. Semua ikut membantu menyembuhkan Talib dengan kekuatan lima orang itu walaupun akhirnya ia sendiri meninggal. Semua ikut membantu kecuali Wak Katok karena ia adalah seorang pemimpin.
 
Esok paginya Talib dikuburkan, Pak Haji dan sutan menjaga pondok serta Pak Balam. Sedangkan yang lain pergi memburu harimau. Sutan tak tahan mendengar igauan Pak Balam yang meminta untuk mengaku dosa. Ia pun pergi meninggalkan Pak Haji dan Pak Balam yang sedang sakit dan pergi menyusul kawan-kawan yang lainnya. Sedangkan di tempat lain, di dalam hutan Wak Katok dan Pasukannya terus mengikuti jejak harimau. Pada saat mereka merasa sudah dekat dengan sang harimau, mereka menyusun rencana sedemikian rupa. Mereka lantas bersembunyi di belakang pohon yang besar dan menunggu sang harimau tiba. Malam pun tiba, saat itu juga mereka mendengar jeritan manusia, dan ngauman harimau seecara bersamaan. Tapi mereka tak hendak untuk menolongnya, dan memutuskan kembali ke tempat mereka bermalam. Ketika sampai di tempat bermalam, Pak Haji menanyakan keberadaan Sutan. Mereka menggeleng, dan menceritakan apa yang terjadi pada dua tempat yang berbeda, mereka pun menyimpulkan bahwa yang menjadi korban harimau tersebut ialah Sutan. Pagi-pagi ketika mereka bangun, mereka terkejut karena Pak Balam akhirnya meninggalkan dunia. Setelah selesai mengubur Pak Balam, mereka semua memutuskan untuk pergi berburu.
 
Wak Katok memutuskan mengambil jalan pintas, ternyata jalan pintas itu melewati hutan yang sangat lembab. Hutan ini pun seperti tak pernah disentuh makhluk hidup kecuali babi dan badak. Mereka ingin keluar dari rimba jahat tersebut, tetapi Wak Katok yang menjadi pemimpin rombongan tersebut hanya membuat mereka berputar-putar di jalan yang sama karena sebenarnya Wak Katok takut memburu harimau. Setelah itu, Wak Katok malah marah-marah sendiri, dan memaksa satu persatu orang untuk mengakui dosa-dosanya. Semuanya mau menurut kecuali Buyung. Wak Katok memaksa Buyung dengan cara meletakkan senapan di dadanya, dan saat itu pula suara auman harimau terdengar. Setelah harimau pergi, Wak Katok tak dapat diajak berbicara lagi yang akhirnya Wak Katok pun mengusir mereka.
 
Buyung, Pak Haji, dan Sanip menyusun rencana untuk mengambil senapan. Senapan berhasil diambil setelah melalui perkelahian. Wak Katok akhirnya pingsan dan akhirnya Pak Haji meninggal karena luka yang disebabkan oleh Wak Katok. Setelah sihir yang dimiliki oleh Wak Katok, Buyung menyusun rencana yang sangat bagus hingga akhirnya dapat membunuh harimau tersebut. Ia membunuh dengan cara melepaskan bidikan tepat mengenai sasaran dan harimaupun mati. Ketika itu ia menggunakan Wak Katok sebagai umpan karena Wak Katok diikat di sebuah batang pohon yang besar. Kini mengertilah Buyung maksud kata-kata Pak Haji bahwa untuk keselamatan kita hendaklah dibunuh dahulu harimau yang ada di dalam diri kita. Untuk membina kemanusiaan perlu kecintaan sesama manusia. Seorang diri tidak dapat hidup sebagai manusia. Buyung menyadari bahwa ia harus mencintai sesama manusia dan ia akan sungguh-sungguh mencintai Zaitun. Buyung merasa lega bahwa ia terbebas dari hal-hal yang bersifat takhayul,mantera-mantera,jimat yang penuh kepalsuan dari Wak Katok.
 
Penokohan
a)   Haji Rakhmad          : sombong, sabar, perhatian.
b)   Wak Katok                : keras kepala, pengecut, mementingkan diri  sendiri.
c)    Wak Hitam               : kejam dan keras kepala.
d)   Sutan                        : sopan dan baik.
e)   Talib                         : sopan dan baik.
f)     Sanif                         : sopan, baik, periang dan pemaaf.
g)   Buyung                     : pemberani, jujur, baik penurut dan pemaaf.
h)   Pak Balam                : baik dan jujur
i)     Siti Rubiyah              : baik,dan sabar,penurut.
 
Alur 
Alur penceritaannya adalah alur maju, walaupun ada penceritaan masa lalu, tetap ceritanya adalah alur maju, karena hal tersebut hanya mengenang peristiwa saja dancerita diawali dari penceritaan tokoh – tokohnya bukan tentang peristiwa masa lalu.

SINOPSIS “AZAB DAN SENGSARA”



Aminuddin adalah anak Baginda Diatas, seorang kepala kampong yang terkenal kedermawanan dan kekayaannya. Masyarakat disekitar Sipirok amat segan dan hormat kepada keluarga itu. Adapun Mariamin, yang masih punya ikatan dengan keluarga itu, kini tergolong anak miskin. Ayah Mariamin, Sutan Baringin almarhum, sebenarnya termasuk keluarga bangsawan kaya. Namun, karena semasa hidupnya terlalu boros dan serakah, ia akhirnya jatuh miskin dan meninggal dalam keadaan demikian.

Bagi Aminuddin, kemiskinan keluarga itu tidaklah menghalanginya unuk tetap bersahabat dengan Mariamin. Keduanya memang sudah berteman akrab sejak kecil dan terus meningkat hingga dewasa. Tanpa terasa benih cinta kedua remaja itu pun tumbuh subur. Belakangan, mereka sepakat untuk hidup bersama, membina rumah tangga. Aminuddin pun berjanji hendak mempersunting gadis itu jika kelak ia sudah bekerja. Janji pemuda itu akan segera dilaksanakan jika ia sudah mendapat pekerjaan di Medan. Aminuddin segera mengirim surat kepada kekasihnya bahwa ia akan segera membawa Mariamin ke Medan.

Berita itu tentu saja amat menggermbirakan hati Mariamin dan ibunya yang memang selalu berharap agar kehidupannya segera berubah. Setidak-tidaknya, ia dapat melihat putrinya hidup bahagia.

Niat Aminuddin itu disampaikan pula kepada kedua orang tuanya. Ibunya sama sekali tidak berkeberatan. Bagaimanapun, almarhum ayah Mariamin masih kakak kandungnya sendiri. Maka, jika putranya kelak jadi kawin dengan Mariamin, perkawinan itu dapatlah dianggap sebagai salah satu usaha menolong keluarga miskin itu.

Namun, lain halnya pertimbangan Baginda Diatas, Ayah Aminuddin. Sebagai kepala kampung yang kaya dan disegani, ia ingin agar anaknya beristrikan orang yang sederajat. Menurutnya, putranya lebih pantas kawin dengan wanita dari keluarga kaya dan terhormat. Oleh karena itu, jika Aminuddin kawin dengan Mariamin, perkawinan itu sama halnya dengan merendahkan derajat dan martabat dirinya. Itulah sebabbya, Baginda Diatas bermaksud menggagalkan niat putranya.

Untuk tidak menyakiti hati istrinya, Baginda Diatas mengajaknya pergi ke seorang dukun untuk melihat bagaimana nasib anaknya jika kawin dengan Mariamin. Sebenarnya, itu hanya tipu daya Baginda Diatas. Oleh karena sebelumnya, dukun itu sudah mendapat pesan tertentu, yaitu memberi ramalan yang tidak menguntungkan rencana dan harapan Aminuddin. Mendengar perkataan si dukun bahwa Aminuddin akan mengalami nasib buruk jika kawin dengan Mariamin, ibu Aminuddin tidak dapatberbuat apa-apa selain menerima apa yang menurut suaminya baik bagi kehidupan anaknya.

Kedua orang tua Aminuddin akhirnya meminang seorang gadis keluarga kaya yang menurut Baginda Diatas sederajat dengan kebangsawanan dan kekayaannya. Aminuddin yang berada di Medan, sama sekali tidak mengetahui apa yang telah dilakukan orang tuanya. Dengan penuh harapan, ia tetap menanti kedatangan ayahnya yang akan membawa Mariamin.

Selepas peminangan itu, ayah Aminuddin mengirim telegram kepada anaknya bahwa calon istrinya akan segera dibawa ke Medan. Ia juga meminta agar Aminuddin menjemputnya di stasiun.
Betapa sukacita Aminuddin setelah membaca telegram ayahnya. Ia pun segera mempersiapkan segala sesuatunya. Ia membayangkan pula kerinduannya pada Mariamin akan segera terobati.

Namun, apa yang terjadi kemudian hanyalah kekecewaan. Ternyata, ayahnya bukan membawa pujaan hatinya, melainkan seorang gadis yang bernama Siregar. Sungguhpun begitu, sebagai seorang anak, ia harus patuh pada orang tua dan adapt negerinya. Aminuddin tidak dapat berbuat apa-apa selain menerima gadis yang dibawa ayahnya. Perkawinan pun berlangsung dengan keterpaksaan yang mendalam pada diri Aminuddin. Berat hati pula ia mengabarkannya pada Mariamin.
Bagi Mariamin, berita itu tentu saja sangat memukul jiwanya. Harapannya musnah sudah. Ia pingsan dan jatuh sakit sampai beberapa lama. Tak terlukiskan kekecewaan hati gadis itu.

Setahun setelah peristiwa itu, atas kehendak ibunya, Mariamin terpaksa menerima lamaran Kasibun, seorang lelaki yang sebenarnya tidak diketahui asal-usulnya. Ibunya hanya tahu, bahwa Kasibun seorang kerani yang bekerja di Medan. Menurut pengakuan lelaki itu, ia belum beristri. Dengan harapan dapat mengurangi penderitaan ibu-anak itu, ibu Mariamin terpaksa menjodohkan anaknya dengan Kasibun. Belakangan diketahui bahwa lelaki itu baru saja menceraikan istrinya hanya karena akan mengawini Mariamin.

Kasibun kemudian membawa Mariamin ke Medan. Namun rupanya, penderitaan wanita itu belum juga berakhir. Suaminya ternyata mengidap penyakit berbahaya yang dapat menular bila keduanya melakukan hubungan suami-istri. Inilah sebabnya, Mariamin selalu menghindar jika suaminya ingin berhubungan intim dengannya. Akibatnya, pertengkaran demi pertengkaran dalam kehidupan rumah tangga itu tak dapat dihindarkan. Hal yang dirasakan Mariamin bukan kebahagiaan, melainkan penderitaan berkepanjangan. Tak segan-segan Kasibun menyiksanya dengan kejam.

Dalam suasana kehidupan rumah tangga yang demikian itu, secara kebetulan, Aminuddin dating bertandang. Sebagaimana lazimnya kedatangan tamu, Mariamin menerimanya dengan senang hati, tanpa prasangka apa pun. Namun, bagi Kasibun, kedatangan Aminuddin itu makin mengobarkan rasa cemburu dan amarahnya. Tanpa belas kasihan, ia menyiksa istrinya sejadi-jadinya.

Tak kuasa menerima perlakuan kejam Kasibun, Mariamin akhirnya mengadu dan melaporkan tindakan suaminya kepada polisi. Polisi kemudian memutuskan bahwa Kasibun harus membayar denda dan sekaligus memutuskan hubungan tali perkawinan dengan Mariamin.

Janda Mariamin akhirnya terpaksa kembali ke Sipirok, kampong halamannya. Tidak lama kemudian, penderitaay yang silih berganti menimpa wanita itu, sempurna sudah dengan kematiannya. “Azab dan sengsara dunia ini telah tinggal di atas bumi, berkubur dengan jasad yang kasar itu.”

Sinopsis Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck



Di wilayah Mengkasar, di tepi pantai, di antara Kampung Baru dan Kampung Mariso berdiri sebuah rumah bentuk Mengkasar. Di sanalah hidup seorang pemuda berumur 19 tahun. Pemuda itu bernama Zainuddin. Saat ia termenung, ia teringat pesan ayahnya ketika akan meninggal. Ayahnya mengatakan bahwa negeri aslinya bukanlah Mengkasar.

Di Negeri Batipuh Sapuluh Koto (Padang panjang) 30 tahun lampau, seorang pemuda bergelar Pendekar Sutan, kemenakan Datuk Mantari Labih, yang merupakan pewaris tunggal harta peninggalan ibunya. Karena tak bersaudara perempuan, maka harta bendanya diurus oleh  mamaknya. Datuk Mantari labih hanya bisa menghabiskan harta tersebut, sedangkan untuk kemenakannya tak boleh menggunakannya. Hingga suatu hari, ketika Pendekar Sutan ingin menikah namun tak diizinkan menggunakan hartany atersebut, terjadilah pertengkaran yang membuat Datuk Mantari labih menemui ajalnya. Pendekar Sutan ditangkap, saat itu ia baru berusia 15 tahun. Ia dibuang ke Cilacap, kemudian dibawa ke Tanah Bugis. Karena Perang Bone, akhirnya ia sampai di Tanah Mengkasar. Beberapa tahun berjalan, Pendekar Sutan bebas dan menikah dengan Daeng Habibah, putri seorang penyebar agama islam keturunan Melayu. Empat tahun kemudian, lahirlah Zainuddin.Saat Zainuddin masih kecil, ibunya meninggal. Beberapa bulan kemudian ayahnya menyusul ibunya. Ia diasuh Mak Base. Pada suatu hari, Zainuddin meminta izin Mak Base untuk pergi ke Padang Panjang, negeri asli ayahnya. Dengan berat hati, Mak Base melepas Zainuddin pergi.
 
Sampai di Padang Panjang, Zainuddin langsung menuju Negeri Batipuh. Sesampai di sanan, ia begitu gembira, namun lama-lama kabahagiaannya itu hilang karena semuanya ternyata tak seperti yang ia harpakan. Ia masih dianggap orang asing, dianggap orang Bugis, orang Mengkasar. Betapa malang dirinya, karena di negeri ibunya ia juga dianggap orang asing, orang Padang. Ia pun jenuh hidup di padang, dan saat itulah ia bertemu Hayati, seorang gadis Minang yang membuat hatinya gelisah, menjadikannya alasan untuk tetap hidup di sana. Berawal dari surat-menyurat, mereka pun menjadi semakin dekat dan kahirnya saling cinta.
 
Kabar kedekatan mereka tersiar luas dan menjadi bahan gunjingan semua orang Minang. Karena keluarga Hayati merupakan keturunan terpandang, maka hal itu menjadi aib bagi keluarganya. Zainuddin dipanggil oleh mamak Hayati, dengan alasan demi kemaslahatan Hayati, mamak Hayati menyuruh Zainuddin pergi meninggalkan Batipuh.Zainuddin pindah ke Padang Panjang dengan berat hati. Hayati dan Zainuddin berjanji untuk saling setia dan terus berkiriman surat. Suatu hari, Hayati datang ke Padang Panjang. Ia menginap di rumah temannya bernama Khadijah. Satu peluang untuk melepas rasa rindu pun terbayang di benak Hayati dan Zainuddin. Namun hal itu terhalang oleh adanya pihak ketiga, yaitu Aziz, kakak Khadijah yang juga tertarik oleh kecantikan Hayati.Mak Base meninggal, dan mewariskan banyak harta kepada Zainuddin. Karena itu ia akhirnya mengirim surat lamaran kepada Hayati di Batipuh. Hal itu bersamaan pula dengan datangnyarombongan dari pihak Aziz yang juga hendak melamar Hayati. Zainuddin tanpa menyebutkan harta kekayaan yang dimilikinya, akhirnya ditolak oleh ninik mamak Hayati dan menerima pinangan Aziz yang di mata mereka lebih beradab.
Zainuddin tak kuasa menerima penolakan tersebut. Apalagi kata sahabatnya, Muluk, Aziz adalah seorang yang bejat moralnya. Hayati juga merasakan kegetiran. Namun apalah dayanya di hadapan ninik mamaknya. Setelah pernikahan Hayati, Zainuddin jatuh sakit.
 
Untuk melupakan masa lalunya, Zainuddin dan Muluk pindah ke Jakarta. Di sana Zainuddin mulai menunjukkan kepandaiannya menulis. Karyanya dikenal masyarakat dengan nama letter “Z”. Zainuddin dan Muluk pindah ke Surabaya, dan ia pun akhirnya menjadi pengarang terkenal yang dikenal sebagai hartawan yang dermawan.Hayati dan Aziz hijrah ke Surabaya. Semakin lama watak asli Aziz semakin terlihat juga. Ia suka berjudi dan main perempuan. Kehidupan perekonomian mereka makin memprihatinkan dan terlilit banyak hutang. Mereka diusir dari kontrakan, dan secara kebetulan mereka bertemu dengan Zainuddin. Mereka singgah di rumah Zainuddin. Karena tak kuasa menanggung malu atas kebaikan Zainuddin, Aziz meninggalkan istrinya untuk mencari pekerjaan ke Banyuwangi.
 
Beberapa hari kemudian, datang dua surat dari Aziz. Yang pertama berisi surat perceraian untuk Hayati, yang kedua berisi surat permintaan maaf dan permintaan agar Zainuddin mau menerima Hayati kembali. Setelah itu datang berita bahwa Aziz ditemukan bunuh diri di kamarnya. Hayati juga meminta maaf kepada Zainuddin dan rela mengabdi kepadanya. Namun karena masih merasa sakit hati, Zainuddin menyuruh Hayat pulang ke kampung halamannya saja. Esok harinya, Hayati pulang dengan menumpang Kapal Van Der Wijck.
 
Setelah Hayati pergi, barulah Zainuddin menyadari bahwa ia tak bisa hidup tanpa Hayati. Apalagi setelah membaca surat Hayati yang bertulis “aku cinta engkau, dan kalau kumati, adalah kematianku di dalam mengenang engkau.” Maka segeralah ia hendak menyusul Hayati ke Jakarta. Saat sedang bersiap-siap, tersiar kabar bahwa kapal Van Der Wijck tenggelam. Seketika Zainuddin langsung syok, dan langsung pergi ke Tuban bersama Muluk untuk mencari Hayati. Di sebuah rumah sakit di daerah Lamongan, Zainuddin menemukan Hayati yang terbarng lemah sambil memegangi foto Zainuddin. Dan hari itu adalah pertemuan terakhir mereka, karena setelah Hayati berpesan kepada Zainuddin, Hayati meninggal dalam dekapan Zainuddin.Sejak saat itu, Zainuddin menjadi pemenung. Dan tanpa disadari siapapun ia  meninggal dunia. Kata Muluk, Zainuddin meninggal karena sakit. Ia dikubur bersebaelahan dengan pusara Hayati.

Sinopsis Novel Sang Penari


Alkisah di Pulau Bali hiduplah seorang pemuda desa yang bernama Putu. Dia hidup bahagia di tengah keluarga yang sederhana. Ayahnya bernama I. Jagra yang menjabat sebagai Ketua Adat yang sangat disegani dan dihormati oleh segenap warga kampung, ibunya seorang wanita yang bijaksana. Dia juga punya seorang adik perempuan bernama Santi. Dia salah seorang dari pencetus gagasan berdirinya perkumpulan kesenian, yang berhasil menciptakan sebuah tontonan yang menjadi salah satu objek pariwisata. Selain itu Putu juga memerankan tokoh utama cerita sendratari berpasangan dengan Anak Agung Ayu Prami yang lebih dikenal dengan nama Gung Ayu, seorang gadis cantik Putri Anak Agung Ngrurah Gede, putri seorang bangsawan keturunan langsung dari raja-raja yang pernah bertakhta di puri.
 
Hubungan antara Putu dengan Gung Ayu bukan sekedar pasangan menari saja tapi mereka sudah menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih yang saling mencintai. Tapi hubungan cinta mereka ditentang oleh ayah mereka karena perbedaan kasta. Ayah Gung Ayu melarang putrinya untuk menari dan mengancam Putu supaya tidak berhubungan lagi dengan putrinya. Sedangkan ayah Putu tidak segan-segan menyuruh anaknya untuk pergi ke Jakarta dan tinggal bersama pamannya yang bernama Pak Made.
 
Di tengah perjalan menuju Jakarta Putu bertemu dengan seorang calon wartawati yang bernama Netty. Netty seorang gadis yang berpenampilan menarik murah senyum, tapi tidak berkesan murahan. Tiba di Jakarta Putu di sambut hangat oleh Pak Made Paman dan Bibinya serta adik sepupunya yang bernama Darsana yang baru duduk di kelas 6 SD. Selain Paman dan bibinya serta adik sepupunya, di rumah Pamannya yang mungil juga tinggal 2 orang laki-laki bernama Mas Herman seorang salesman dan Indra yang bekerja sebagai konsultan teknik, juga 5 orang wanita yang semuanya bekerja sebagai pramugari udara.
 
Putu cepat akrab dengan Herman dan Evi. Herman yang kecewa kerana istrinya selingkuh sering mencurahkan perasaannya kepada Putu, Evi yang dihianati oleh kekasihnya yang bernama Freddy juga sering cerita tentang kekecewaan kepada Putu.
 
Di Jakarta Putu ikut kursus Perbankan untuk menghilangkan kejenuhan. Kursus itu terkesan mewah dengan Mbak Diah sebagai costumer service yang begitu ramah, serta Pak Kartono sebagai instruktur kursusnya. Di sana juga Putu berkenalan dengan Benny seorang teman kursusnya yang berasal dari Batak.
Meskipun tinggal berjauhan dengan Gung Ayu, tapi putu masih tetap berhubungan lewat surat dengan bantuan Duarsa, teman Putu semenjak SMA dan Ratni pelayan Gung Ayu kekasihnya Duarsa. Tapi sayang pada suatu hari semada (Bujang-Puri) yang pernah ditolak cintanya oleh Ratni, balas dendam kepada Ratni dengan cara memberikan surat dari Putu untuk Gung Ayu kepada Anak Agung Ngurah Gede. Sehingga Anak Agung Ngurah Gede marah besar dan mengusir Ratni dan Puri. Karena malu orang tua Ratni ikut-ikutan marah dan melarangnya untuk berhubungan lagi dengan Duarsa, sehingga Duarsa kehilangan kontak dengan Gung Ayu. Sedangkan Gung Ayu sendiri dititipkan oleh ayahnya di Puri Pamannya di Ubud.
 
Pada suatu malam Putu nekat kabur dari rumah pamannya, karena telah terjadi kesalahpahaman, Putu tidak tahan akan omelan pamannya yang terus menerus memberondong dirinya karena cidera ketika ditempeleng preman yang pernah dipukulnya karena mengganggu Beni teman putu ketika kursus perbankan. Karena hari sudah sangat malam dan karena merasa sangat letih, Putu tertidur di depan gereja hingga mulai terang dan akhirnya dipertemuan Pak Johanes seorang laki-laki yang baik hati yang dengan sukarela mengajak Putu untuk tinggal di rumahnya. Pak Anes tinggal bersama istrinya yang bernama Bu Anes dan anak laki-lakinya yang bernama Andre, dia masih duduk di kelas 2 SMP. Kegiatan Pak Anes sehari-hari membuka bengkel dengan dibantu oleh Sarman dan Gimin dua orang pemuda asal Jawa Tengah yang rajin sekali bekerja.
 
Pada suatu malam ke rumah Pak Anes kedatangan seorang tamu utusan seorang pengusaha kaya yang sedang mencari seorang guru tari untuk anak-anaknya. Pak Anes mencoba menawarkan pekerjaan itu kepada Putu. Putu menerimanya dengan senang hati.
 
Keesokan harinya Putu diantar Pak Johanes ke rumah Pak Wijaya, pengusaha kaya yang sedang mencari guru tari untuk anak-anaknya. Tiba di rumah mewah tersebut Putu dan Pak Anes disambut hangat oleh Nyonya rumah dan dua anak gadisnya yang masih belia. Kakaknya bernama Laras dan adiknya bernama Julia.
 
Hari itu juga mereka meminta Putu untuk memulai mengajar menari. Mereka sangat bersemangat untuk belajar menari.
 
Hari-hari bergulir cepat, kemajuan demia kemajuan mereka capai. Beberapa tarian yang diajarkan kepada mereka dapat diserap dalam waktu yang singkat.
Di Bali dipertontonkan pesta kesenian Bali yang berlangsung selama sebulan penuh. Kedua gadis tersebut mau menonton pesta kesenian Bali sekalian melihat-lihat keindahan Pulau Dewata tersebut. Mereka mengajak Putu, tetapi Putu belum memberi jawaban atas ajakannya.
 
Suatu hari ayah datang ke rumah Pak Anes dengan diantar oleh Duarsa, Paman dan Bibi serta Darsana adik sepupunya, untuk menjemput Putu kembali ke Bali. Walaupun dengan berat hati terpaksa menyetujui ajakan ayahnya untuk pulang ke Bali.
 
Sebelum pulang ke Bali, Putu memperkenalkan Duarsa dulu kepada Laras dan Julia, sambil memperlihatkan hasil didikannya selama ini kepada Duarsa. Selain itu juga Putu berpamitan kepada mereka bahwa dia akan pulang ke Bali dan berjanji akan menjemput mereka di Bandara Ngurah Rai ketika mereka jadi pergi ke Bali.
 
Waktu yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga Laras dan Julia jadi pergi ke Bali dan dijemput oleh Putu di bandara. Hampur tiap hari Putu mengantar mereka menuju tempat-tempat wisata yang penting yang ada di pulau Bali. Hingga pada suatu hari, tanpa ditemani Julia mereka saling mengatakan perasaan cintanya. Dan pada waktu itu pulalah Putu baru mengetahui bahwa Laras sebenarnya orang Bali yang mempunyai nama Anak Agung Putu Larasati. Ayahnya yang pengusaha kaya itu sebenarnya ayah tirinya yang menikahi ibunya ketika dia masih kecil. Sedangkan ayahnya kawin lagi dengan wanita pilihan orang tuanya dan sekarang tinggal di Bali.
 
Suatu malam Putu kembali latihan menari di Balai Banjar bersama pasangan mainnya, yang kali ini bukan Gung Ayu melainkan Damayanti seorang guru kesenian SMP lulusan Diploma tari yang bersifat superior angkuh cenderung seorang-olah dialah yang paling hebat. Meskipun ada keragu-raguan di hati Putu tentang kembalinya kejayaan sendratari seperti ketika dia menari berpasangan dengan Gung Ayu, tapi Putu mencoba menjalani latihan sebaik-baiknya.
 
Pagi yang cerah Ibu Putu menerika tamu yang tak lain adalah Laras yang akan mengajak Putu jalan-jalan, Laras kelihatan sangat gembira. Di tengah perjalan Laras meminta Putu untuk membujuk pemilik toko seni supaya menjual lukisannya yang diinginkan Laras kemarin. Ketika lukisan itu diperlihatkan kepada Putu. Putu sangat terkejut kerena lukisan itu adalah lukisan potret seorang wanita yang mirip Laras.
Putu berbincang-bincang panjang lebar dengan pemilik toko seni itu tanpa ditemani Laras. Mengenai riwayat lukisan yang diinginkan Laras dan juga mengenai riwayat hidup masing-masing. Ternyata pemilik toko itu bernama Anak Agung Anom yang tak lain dan bukan adalah ayahnya Anak Agung Putu Larasati alias Laras yang jadi korban perceraian ayah dan ibunya hanya perbedaan kasta.

Sinopsis Novel Perahu Kertas


Kisah ini dimulai dengan Keenan, seorang remaja pria yang baru lulus SMA, yang selama enam tahun tinggal di Amsterdam bersama neneknya. Keenan memiliki bakat melukis yang sangat kuat, dan ia tidak punya cita-cita lain selain menjadi pelukis, tapi perjanjiannya dengan ayahnya memaksa ia meninggalkan Amsterdam dan kembali ke Indonesia untuk kuliah. Keenan diterima berkuliah di Bandung, di Fakultas Ekonomi.

Di sisi lain, ada Kugy, cewek unik cenderung eksentrik, yang juga akan berkuliah di universitas yang sama dengan Keenan. Sejak kecil, Kugy menggila-gilai dongeng. Tak hanya koleksi dan punya taman bacaan, ia juga senang menulis dongeng. Cita-citanya hanya satu: ingin menjadi juru dongeng. Namun Kugy sadar bahwa penulis dongeng bukanlah profesi yang meyakinkan dan mudah diterima lingkungan. Tak ingin lepas dari dunia menulis, Kugy lantas meneruskan studinya di Fakultas Sastra

 Kugy dan Keenan dipertemukan lewat pasangan Eko dan Noni. Eko adalah sepupu Keenan, sementara Noni adalah sahabat Kugy sejak kecil. Terkecuali Noni, mereka semua hijrah dari Jakarta, lalu berkuliah di universitas yang sama di Bandung.Mereka berempat akhirnya bersahabat karib.

Lambat laun, Kugy dan Keenan, yang memang sudah saling mengagumi, mulai mengalami transformasi. Diam-diam, tanpa pernah berkesempatan untuk mengungkapkan, mereka saling jatuh cinta. Namun kondisi saat itu serba tidak memungkinkan. Kugy sudah punya kekasih, cowok mentereng bernama Joshua, alias Ojos (panggilan yang dengan semena-mena diciptakan oleh Kugy). Sementara Keenan saat itu dicomblangkan oleh Noni dan Eko dengan seorang kurator muda bernama Wanda.

 Persahabatan empat sekawan itu mulai merenggang. Kugy lantas menenggelamkan dirinya dalam kesibukan baru, yakni menjadi guru relawan di sekolah darurat bernama Sakola Alit. Di sanalah ia bertemu dengan Pilik, muridnya yang paling nakal. Pilik dan kawan-kawan berhasil ia taklukkan dengan cara menuliskan dongeng tentang kisah petualangan mereka sendiri, yang diberinya judul: Jenderal Pilik dan Pasukan Alit. Kugy menulis kisah tentang murid-muridnya itu hampir setiap hari dalam sebuah buku tulis, yang kelak ia berikan pada Keenan.

Kedekatan Keenan dengan Wanda yang awalnya mulus pun mulai berubah. Keenan disadarkan dengan cara yang mengejutkan bahwa impian yang selama ini ia bangun harus kandas dalam semalam. Dengan hati hancur, Keenan meninggalkan kehidupannya di Bandung, dan juga keluarganya di Jakarta. Ia lalu pergi ke Ubud, tinggal di rumah sahabat ibunya, Pak Wayan.

Masa-masa bersama keluarga Pak Wayan, yang semuanya merupakan seniman-seniman sohor di Bali, mulai mengobati luka hati Keenan pelan-pelan. Sosok yang paling berpengaruh dalam penyembuhannya adalah Luhde Laksmi, keponakan Pak Wayan. Keenan mulai bisa melukis lagi. Berbekalkan kisah-kisah Jenderal Pilik dan Pasukan Alit yang diberikan Kugy padanya, Keenan menciptakan lukisan serial yang menjadi terkenal dan diburu para kolektor.

Kugy, yang juga sangat kehilangan sahabat-sahabatnya dan mulai kesepian di Bandung, menata ulang hidupnya. Ia lulus kuliah secepat mungkin dan langsung bekerja di sebuah biro iklan di Jakarta sebagai copywriter. Di sana, ia bertemu dengan Remigius, atasannya sekaligus sahabat abangnya. Kugy meniti karier dengan cara tak terduga-duga. Pemikirannya yang ajaib dan serba spontan membuat ia melejit menjadi orang yang diperhitungkan di kantor itu.

Namun Remi melihat sesuatu yang lain. Ia menyukai Kugy bukan hanya karena ide-idenya, tapi juga semangat dan kualitas unik yang senantiasa terpancar dari Kugy. Dan akhirnya Remi harus mengakui bahwa ia mulai jatuh hati. Sebaliknya, ketulusan Remi juga akhirnya meluluhkan hati Kugy.

Sayangnya, Keenan tidak bisa selamanya tinggal di Bali. Karena kondisi kesehatan ayahnya yang memburuk, Keenan terpaksa kembali ke Jakarta, menjalankan perusahaan keluarganya karena tidak punya pilihan lain.

Pertemuan antara Kugy dan Keenan tidak terelakkan. Bahkan empat sekawan ini bertemu lagi. Semuanya dengan kondisi yang sudah berbeda. Dan kembali, hati mereka diuji. Kisah cinta dan persahabatan selama lima tahun ini pun berakhir dengan kejutan bagi semuanya. Akhirnya setiap hati hanya bisa kembali pasrah dalam aliran cinta yang mengalir entah ke mana. Seperti perahu kertas yang dihanyutkan di parit, di empang, di kali, di sungai, tapi selalu bermuara di tempat yang sama. Meski kadang pahit, sakit, dan meragu, tapi hati sesungguhnya selalu tahu.

Diwarnai pergelutan idealisme, persahabatan, tawa, tangis, dan cinta, “Perahu Kertas” tak lain adalah kisah perjalanan hati yang kembali pulang menemukan rumahnya.

SINOPSIS NOVEL “SALAH ASUHAN”

SINOPSIS NOVEL “SALAH ASUHAN”
NOVEL ANGKATAN 20-AN


Judulbuku    : Salah asuhan
Penulis    : Abdul Muis
Penerbit    : BalaiPustaka
Tebal          : 402 halaman


Hanafi, laki-laki muda asli minangkabau, berpendidikan tinggi dan berpandangan kebarat-baratan. Bahkan ia cenderung memandang rendah bangsanya sendiri. Dari kecil hanafi berteman dengan Corrie du Busse, gadis indo-Belanda yang amat cantik parasnya. Karena selalu bersama-sama mereka pun saling mencintai. Tapi cinta mereka tidak dapat disatukan karena perbedaan bangsa. Jika orang Bumi putera menikah dengan keturunan Belanda maka mereka akan dijauhi oleh para sahabatnya dan orang lain. Untuk itu Corrie pun meninggalkan minangkabau dan pergi ke Betawi. Perpindahan itu sengaja ia lakukan untuk menghindar dari hanafi dan sekaligus untuk meneruskan sekolahnya.

Akhirnya ibu hanafi ingin menikahkan hanafi dengan Rapiah. Rapiah adalah sepupu hanafi, gadis minangkabau sederhana yang berperangai halus, taat pada tradisi dan adatnya. Ibu hanafi ingin menikahkan hanafi dengan Rapiah yaitu untuk membalasbudi pada ayah Rapiah yang telah membantu membiayai sekolah hanafi. Awalnya hanafi tidak mau karena cintanya hanya untuk Corrie saja. Tapi dengan bujukan ibunya walaupun terpaksa ia menikah juga dengan Rapiah. Karena hanafi tidak mencintai Rapiah, di rumah Rapiah hanya diperlakukan seperti babu, mungkin hanafi menganggap bahwa Rapiah itu seperti tidak ada apabila  banyak temannya orang Belanda yang dating kerumahnya. Hanafi dan Rapiah dikaruniai seorang anaklaki-laki, yaituSyafe’i

Suatu hari hanafi digigit anjing gila, maka ia harus berobat ke Betawi agar sembuh. Di Betawi hanafi dipertemukan kembali dengan Corrie. Disana, hanafi menikah dengan Corrie dan mengirim surat pada ibunya bahwa dia menceraikan Rapiah. Ibu hanafi dan Rapiah pun sangat sedih tetapi walaupun hanafi seperti itu, Rapiah tetap sabar dan tetap tinggal dengan ibu hanafi. Perkawinwnnya dengan Corrie ternyata tidak bahagia, samapai-sampai Corrie dituduh suka melayani laki-laki lain oleh hanafi. Akhirnya Corrie pun sakit hati dan pergi dari rumah menuju Semarang. Corrie sakit cholera dan meninggal dunia, hanafi sangat menyesal telah menyakiti hati Corrie dan sangat sedih atas kematian Corrie, hanafi pun pulang kembali ke kampong halamannya dan menemui ibunya. Disana hanafi hanya diam saja. Seakan-akan hidupnya sudah tidak ada artinya lagi. Hanafi sakit, kata dokter ia minum sublimat (racun) untuk mengakhiri hidupnya, dan akhirnya dia meninggal dunia.

SINOPSIS NOVEL “ANAK dan KEMENAKAN”

SINOPSIS NOVEL “ANAK dan KEMENAKAN”
ANGKATAN 20-AN

JudulBuku    : Anak dan Kemenakan
Pengaran     : Marah Rusli
Penerbit     : Balai Pustaka
Tebalbuku     : 332 halaman
      
Mr. Muhammad Yatim, dr.Aziz, Puti Bidasari, dan Sitti Nurmala adalah empat orang yang sudah menjalin persahabatan dari kecil, mereka semua berasal dari keluarga bangsawan. Selain hubungan persahabtan, diantara kedua pasangan anak muda itu juga terjalin hubungan antara kekasih. Mr. Muhammad Yatim mencintai Puti Bidasari, yang merupakan adik angkatnya dan dibesarkan dalam satu keluarga yaitu keluarga Sutan Alamsyah dan istrinya Sitti Maryam. Sedangkan Sitti Nurmala menjalin hubungan dengan dr.Aziz. Sitti Nurmala merupakan putri dari saudagar kaya di Padang yaitu Baginda Mais dan istinya Upik Bunngsu. Sutan Alamsyah sangat bahagia atas kedatangan anaknya Mr. Yatim dari negeri Belanda yang sudah menyelesaikan sekolahnya sebagai Hakim Tinggi sehingga dia mendapat gelar Master Doktor, yang pada saat itu adalah gelar tertinggi di Padang, dan hanya Mr. Yatim yang mendapat gelar tersebut.


Sutan Alamsyah Hopjaksa ingin mempersandingkan anaknya Mr. yatim dengan keponakannya Puti Bidasari yang merupakan anak kakak perempuannya yaitu Putri Renosari dan Sutan Baheram, tapi lamaran Sutan Alamsyah ditolak, karena mereka tahu asal-usul Mr. Yatim yang bukan anak kandung Sutan Alamsyah. Mereka kira Mr. Yatim adalah anak tukang pedati yang miskin, meskipun dibesarkan dan diangkat anak oleh Sutan Alamsyah bahkan sampai disekolahkan dan mendapat gelar Mester Doktor di Negeri Belanda.


Adat tetap adat dan selalu membelenggu, mengukung dan membagi dalam tingkat kehidupan masyarakat, seperti halnya Putri Renosari yang ingin menikahkan anaknya dengan seorang bangsawan lagi. Bidasari akan dikawinkan dengan turunan bangsawan tinggi Sutan Malik, kemenakan Sutan Pamenan yang gemar berjudi dan menyabung ayam.Biaya pernikahan Puti Bidasari dengan Sutan Malik ditanggung oleh Baginda Mais yang merasa diuntungkan dengan pernikahan Puti Bidasari dan Sutan Malik, karena kesempatan untuk menikahkan putrinya Sitti Nurmala dengan Mr. Yatim terbuka lebar. Akankah Mr. Yatim menikah dengan Bidasari ataukah akan bersanding dengan Sitti Nurmala sebagaimana permintaan ayah angkatnya Sutan Alamsyah, sedangkan Sitti Nurmala adalah kekasih dr. Aziz yang merupakan sahabat karibnya dari kecil.

Sinopsis Novel ”KATAK HENDAK JADI LEMBU”

Judul                : Katak  Hendak Jadi Lembu
Pengarang     : N.St.Iskandar
Terbitan         : 1935
Halaman        : 176 halaman

        Suria namanya. Seorang laki-laki yang sangat angkuh, kasar, pongah, serta suka berfoya-foya. Sebenarnya ayah dari Zubaedah istrinya yaitu Haji Hasbullah tidak mengehendaki anaknya menikah dengan Suria, akan tetapi mengingat bahwa yang meminta Zubaedah adalah sahabatnya sendiri yaitu Haji Zakaria, maka dinikahkan lah Zubaedah anaknya itu dengan Suria anak dari sahabatnya. Benar saja, ketika orang tua Suria meninggal dunia, ia semakin parah sifatnya. Suka berfoya-foya dan menghabiskan harta warisan ayanhya sampai ia tidak memperhatikan Zubaedah. Selama tiga tahun ia meninggalkan istrnya yang sedang mengandung sampai melahirkan anak pertamanya yaitu Abdulhalim. Setelah Abdulhalim lahir, Suria kembali dan meminta maaf kepada Zubaedah karena telah meninggalkannya. Dan Suria kembali karena harta warisan ayahnya sudah habis. Permohonan maaf itu dikabulkan oleh Zubaedah dengan harapan agar suaminya benar-benar telah menyesal dan tidak memperlakukan dia seperti itu lagi.
        Sifat Suria mulai berubah menjadi bertanggung jawab dan membaik. Dia bekerja di Residenan Kabupaten. Ia menjadi seorang juru tulis yang berpenghasilan pas-pasan yang tidak cukup untuk membiayai kehidupannya sehari-hari. Sehingga, anak pertamanya yaitu Abdulhalim disekolahkan oleh orangtua Zubaedah. Lama-kelamaan sifat Suria kembali seperti semula menjadi angkuh dan merasa dirinya adalah bangsawan muncul kembali. Ia tak ingin kalah dengan mertuanya yang bisa menyekolahkan Abdulhalim, maka ia menyekolahkan anak kedua dan ketiga nya yaitu Saleh dan Aminah di sekolah HIS Bandung. Sebenarnya Zubaedah kurang setuju dengan penempatan keduan anaknya itu di HIS, karena biaya yang dibutuhkan sangat besar. Untuk makan saja mereka susah, apalagi ditambah tanggungan anak-anaknya yang sekolah di HIS. Tetapi, Suria menanggapi dengan biasa, santai dan tenang-tenang saja. Dia dmerdasadd mendjadi orang yang disegani dan dihormati di kampungnya, sehngga ia menyekolahkan anak-anak nya di HIS, agar ia dipandang sebagai keluarga yang kaya dan tidak miskin. Mengingat bahwa biaya anak-anak mereka yaitu Saleh dan Aminah yang sedang bersekolah di sekolah HIS yang biayanya tidak kecil. Sehingga, Zubaedah sering mengirim surat kepada orang tuanya agar mau mengirimkan uang untuk membayar sekolah, untuk memenuhi kehidupan sehari-hari dan membayar hutang-hutangnya. Tetapi, Zubaedah rikuh untuk meminta kepada kedua orang tuanya itu terus-terusan. Dan anehnya Suria tetap saja tenang.
        Hampir setiap hari penagih hutang datang ke rumahnya. Dan Zubaedah sangat pusing dan bingung bagaimana menghadapi mereka. Sehingga ia seringkali menyuruh anak-anaknya atau pembantunya mengatakan bahwa ia sedang tidur atau tidak berada di rumah. Akhirnya dia memutuskan untuk berhemat. Walaupun keputusan Zubaedah itu sangat ditentang oleh Suria yang hidupnya terbiasa dengan foya-foya tanpa memikirkan keluarganya, tetapi Zubaedah berusaha untuk menerapkan itu. Suria yang tidak suka dengan hidup hemat yang diterapkan oleh Zubaedah, mempunyai cara untuk menambah penghasilannya dengan melamar pekerjaan yang lebih rendah jabatannya tetapi lebih besari gajinya.
       Saingan dalam melamar jabatan baru Suria adalah pegawai magang muda yang baru beberapa bulan masuk di kantornya. Terlihat sekali bagaimana cakap dan ulrtnya pemuda itu, semua orang menyanjung nya, tetapi tidak dengan Suria. Ia tidak suka dengan pegawai yang bernama Kosim itu. Dalam menunggu keputusan akhir bahwa ia akan diterima tau tidak surat lamaran itu. Ia sangat optimis dapat mengalahkan Kosim. Sehingga ia berani mengikuti dan membeli barang-barang yang dilelangkan oleh atasan di kantornya. Suria tidak memelinya dengan tunai, melainkan dengan berhutang, sehingga tambah bertumpuklah hutang-hutang Suria sebelum pekerjaan itu diterimanya. Pada saat mendengar bahwa Kosim lah yang dapat menduduki jabatan itu, Suria sangat kecewa sekali, sehingga ia tidak semangat dalam bekerja. Kosim tidak hanya membuat ia gagal dalam melamar jabatan itu, ia juga akan menikah dengan seorang anak gadis dari seorang Haji dari desa Rancapurut yang sangat ingin dinikahinya, walaupun ia sudah memiliki istri dan anak. Pekerjaan Suria pun berantakan dan tidak aturan. Sampai pada akhirnya ia dipanggil oleh atasannya yang bertanya apakah yang menyebabkan ia seperti ini dan Suria menjawab semuanya. Dan ia pun meminta untuk segera berhenti dari pekerjaannya. Setelah perbincangan itu, atasan Suria mengecek buku kas kabupaten, ternyata ada yang ganjil di dalamnya, Suria pun dipanggil dan dimintai penjelasan akan hal itu. Ternyata Suria memakai uang kas itu untuk membayar hutang-hutangnya. Dan sudah jelas bahwa sebelum Suria ketahuan memakai uang ka situ, ia sudah meminta berhenti bekerja.
        Setelah berhenti bekerja, Suria dan Zubaedah melelang barang-barang di rumahnya. Mereka akan tinggal bersama Abdulhalim dan istrinya di Bandung. Hasil lelang barang-barang itu mereka gunakan untuk membayar sisa hutang dan ongkos untuk ke Bandung.
       Abdulhalim dan istrinya senang keluarga mereka berkumpul di situ. Hari- hari mereka sangat cera. Tetapi, lama-lama sifat Suria yang buruk itu keluar. Ia seolah-olah menjadi kepala rumah tangga yang mengatur semua keperluan rumah itu. Ia tidak ingat bahwa ia tinggal dirumah anaknya yang merupakan kepala rumah tangga di rumah tersebut. Abdulhalim ingin sekali menegurnya, tetapi ia takut menjadi anak yang durhaka. Hingga pada akhirnya istri Abdulhalim mengatakan bahwa ia sudah tak sanggup lagi dengan perangai mertua laki-lakinya yang seperti itu. Zubaedah mendengar pembicaraan Abdulhalim dan istrinya merasa terkejut dan terpukul karena ia merasa bahwa ia dan suaminya telah merepotkan mereka. Akhirnya Zubaedah jatuh sakit dan meninggal dunia. Setelah kematian istrinya, Suria merasa bersalah kepada semuanya. Semua orang, dari anaknya Abdulhalim sampai mertuanya mengatakan kepadanya bahwa Zubaedah meninggal karena ulah Suria yang tidak kunjung bisa menjadi laki-laki dan sosok suami yang baik budi pekertinya. Sehingga, Suria marah kepada semua nya dan meninggalkan rumah Abdulhalim.

Diantara Jarum dan Jerami

SINOPSIS

Diantara Jarum dan Jerami
             Cassandra adalah gadis kecil yang cantik, baik, pintar dan alim, juga cerdik. Namun cassandra sangat bingung dengan tingkah laku adiknya, Gusti yang biasa di panggil “Si Lasak”. Yaitu dia sangat senang berlama-lama didalam kamar mandi hingga berjam-jam namun hal itu tidak membuat cassandra membenci adiknya, justru sebaliknya di sangat kagum dengan kelebihan yang dimiliki adiknya yaitu dia dapat menyusun magic box dalam waktu kurang dari 5 menit, bahkan dengan mata terpejam.
             Ditengah kehangatan suasana keluarga cassandra dikejutkan dengan adanya berita bahwa Rashel temannya terancam di pecat dari sekolah, karena alasan telah menggembosi mobil Pak Hilman (Kepala Sekolah) dan mencorat-coret Mobil Bu. Nastiti dengan kata-kata yang jorok. Namun ia tidakpercaya dengan tuduhan itu, maka iapun berencana untuk menyelidiki kasus itu dengan kedua sahabatnya yaitu dewi dan riris.
             Penyelidikan pun di mulai, berawal dari mewancarai semua saksi yang melihat kejadian diman Rashel sedang mendorong mobil kepala sekolah hingga bannya kempes karena lelah diberi kayu diberi kayu berpaku pada bagian bawah bannya mencari kurang bukti yang digunakan, dan mencari saksi- saksi lainnya yang melihat kejadian itu. Dalam pencariannya cassandra dan kawan-kawan menemukan barang bukti berupa kayu berpaku dan sebuah cat cemrot berwarna merah, yang diduga digunakan untuk melakukan kejahatan itu. Hingga diapun berinisiatif untuk mencari disik jari siapakah yang melekat pada botol cat itu, dengan bantuan dari guru dan kepolisian.
             Disamping itu kak Kemal selaku sebagai kepolisian sektor Bandung yang baru saja dinobatkan sebagai lulusan terbaik di kepolisian sedang dibuat pusing kepala atas kasus pembunuhan yang di tangannya, karena adanya kejanggalan – kejanggalan dalam kasus itu.
             Yang telah mengejutkan lagi si lasak atau gusti tanya sepengetahuan keluarganya ternayata telah dapat hafal alquran, bahkan dia juga dapat menghitung tumpukan pil ekstasi yang tidak sengaja dijatuhkan oleh seorang anggota polisi dari atas meja.
             Setelah melakukan penyelidikan untuk membuktikan bahwa Rashel tidak bersalah sehingga bertemu pada satu titik terang yang menyatakan Rashel tidak bersalah pada saat itu dewan sekolah telah membuat surat pernyataan bahwa Rashel resmi di keluarkan dari sekolah dengan alasan telah melakukan tindakan yang tidak sopan dan karena sering terlambat dan bolos sekolah pada waktu yang bersamaan Rashel yang waktu itu tidak masuk sekolah sedang dilanda musibah yaitu karena meninggalnya ayahnya karena sakit yang diderita maka de cas taz  (nama genk dari ke – 3 cewek itu) pun membuat rekontruksi kejadian yang dihadiri oleh seluruh warga sekolah. Yang dengan sukses dapat menggemparkan seluruh warga sekolah atas berita meninggalnya ayah Rashel dan kenyataan bahwa Rashel tidak bersalah. Mendengar itu semua Bu. Nastiti merasa sangat bersalah kepada Rashel karena berusaha untuk mengeluarkan Rashel dari sekolah.
             Meski Rashel sudah terbukti tidak bersalah tetapi harus tetap tidak akan meneruskan sekolahnya lagi karena harus bekerja mencari uang untuk keperluan keluarganya sebagai “Jagal Sapi” yang telah di lakoninya selama 2 tahun. Mendengar hal itu Pak Bismo dan Bu. Soraya orang tua Cassandra beserta orang tua riris berencana untuk membiayai semua biaya sekolah Rashel dan adiknya pada awalnya dia menolak tawaran itu karema dinilai merepotkan orang lain, namun pada akhirnya dia tetap memilih untuk kembali sekolah lagi sambil bekerja seperti yang dilakukannya selama ini
             Pada akhirnya semua kasus yang ada di pecahkan dengan baik. Karena bantuan dari si lasak atau gusti dari segala kepintaran dan kecerdasan yang dia miliki yang masih berumur 10 tahun.



Penulis                      : Seodude
Penerbit                   : Balai Pustaka
Jumlah Halaman    : 309
Judul novel              : Diantara Jarum dan Jerami

SYAHID SAMURAI

SYAHID SAMURAI


          Pesawat pengebom itu membubung, menembus langit Jepang yang kosong. Sebuah eksperimen maut!           
          Tentara AU Amerika itu tersenyum dingin.           
          Langit kota Hiroshima!           
          Sebuah bom dijatuhkan dari ketinggian, senjata pemusnah massal yang barusan diciptakan oleh Amerika.           
          Kengerian terbelalak dari jamur raksasa yang mengepulkan radiasi maut; ledakan bom atom di Hiroshima. Sebuah babak baru dalam catatan sejarah.

                                                 * * * * *

          Khadijah memandangi Hanifah yang tengah menyusui sang putri. Ia mendadak merindukan sang Umar. Putranya yang kini entah dimana.          
           “Engkau seorang mukminah sejati, Ukhti Hanifah . . . ,” desahnya.
           
          Lubang persembunyian pekat, sumpek oleh jajanan para pengungsi. Dentuman bom sesekali menggetarkan tanah, meruntuhkan partikelnya, menimbulkan kecemasan tersendiri jika tanah di atas mereka runtuh dan mereka terkubur hidup-hidup. Namun pancaran mata Hanifah begitu penuh ketenangan. Menimbulkan kekaguman tersendiri di dada Khadijah.          
          “Engkau pantas mendampingi Mahmud . . . .”

          Hanifah mengangkat wajah, tersenyum manis.          “Demi dakwah dan kebaikan Islam, maukah kau kembali kepada Kak Mahmud, Ukhti Khadijah?”          
           “Hanifah . . . ., aku tidak mau memisahkan cinta yang agung di antara kalian.”           
          “Kak Mahmud mencintai Ukhti.”

          “Cinta yang kotor. . . .”           
          “Karena itu, perlu dibersihkan. Saya bersedia menjadi istri kedua. Bukankah dalam Islam, itu tidak dilarang?”           
          Khadijah berkaca-kaca. Setelah Akiro masuk Islam, sementara dalam hati sang samurai tersimpan cinta yang dalam. Masihkah ia berniat untuk kembali pada ayah Umar?           
          “Perang masih berkecamuk, Ukhti . . . . Jangan berpikir tentang itu!” bisiknya, lirih. Hanifah mengangguk sepakat. Mereka pun tenggelam dalam munajatnya, bersama puluhan santri wanita yang juga tengah khusyuk berdoa.

 
                                                 * * * * *

          Pertempuran itu makin seru. Hakone menyerang kakak seperguruannya dengan segenap kekuatan yang dimiliki.           
          “Huuuup... heyaaahhh!!” Dalam sebuah kesempatan, Akiro berhasil menerjang pertahanan lawan. Sebuah tendangan kuat menghantam pergelangan tangan Hakone, lalu....           
          Traaanggg! Pedang Hakone terpental, melayang, dan menancap pada batang sebuah pohon. Lantas dengan gerakan kilat Akiro menempelkan pedangnya ke leher sang adik seperguruan seraya menelikung bahu lawan dengan kekuatan lengan kirinya. Hakone terjerembab, tak berdaya. Namun sepasang matanya tak juga menunjukkan penyerahan.           
          “Hakone, jika aku mau, kau akan mati!” desis Akiro.           
          “Aku tidak takut! Kematian bagi seorang samurah rebih muria dari pengkhianatan. Baik, aku akan ajari kau mati daram penghormatan... heyaaaahhh!!” Tiba-tiba Hakone berontak keras dan....           
          Craaattt!! Darah menyembur deras ketika ia menerjangkan lehernya ke pedang Akiro.          
          “Hakone!” Teriak Akiro, kaget. Ia tak menyangka Kiyosaki ber-harakiri dengan cara itu.

 
                                                 * * * * *

          Pasukan Jepang yang kalang kabut itu berlarian menuju lembah Sungai Klawing, masuk ke perangkap lawan. Pancingan Akiro sukses. Di lembah tersebut, ratusan sniper menghujani pasukan Jepang dengan peluru. Satu per satu dari mereka roboh, bersama pekik takbir yang membahana. Ketika Allah berkehendak, maka semua akan terasa mudah.           
          “Ingatlah ketika kamu memohon pertolongan pada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu, Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut. Mahabenar Allah dengan segala firman-Nya....” Mahmud menghapus air mata yang membanjiri pipi dengan ujung surbannya. Keharuan itu terasa menyengat, menghantamsegala ujub. Di depan Allah, siapakah kita?           
          “Mahmud..., alhamdulillah, kemenangan telah datang...,” bisik Sayyid Mustapha, serak.           
          “Jepang mengibarkan bendera putih, mereka menyerah!” teriak yusuf.          Mahmud melihat seorang perwira berdiri di atas batu besar, melambai-lambaikan secarik kain putih.           
          “Hentikan menembak!” komando Sayyid Mustapha. “Mereka telah menjadi tawanan kita!”           
          “Allahu akbar!!” Ratusan santri tersuruk dalam sujud syukur, bersama peluh yang deras mengucur, peluh kemenangan. Namun mereka terbelalak ketika bangkit. Sebuah pemandangan mengerikan tengah berlangsung.           
          Puluhan pasukan Jepang yang tersisa mencabut bayonet masing-masing dan....           
          Darah mengucur deras ketika satu per satu bayonet itu menghujam ke dada-dada mereka. Bunuh diri! Harakiri. Sebuah nuansa kehormatan yang            
          “Mereka telah menjadi manusia-manusia picik,” desah Mahmud, terpana.           
          Harakiri! Kehormatan untuk seorang Nippon, terlebih lagi samurai. Dari balik bukit, Akiro Fujiwara menatap pemandangan itu dengan dada bergejolak. Semestinya ia melakukan hal yang sama.
                                                 * * * * *

          Bom atom yang kedua dijatuhkan di Nagasaki. Jepang lumpuh dan menyerah tanpa syarat kepada Sekutu. Sebagai pemenang perang, Sekutu pun melucuti para pecundang dan mendarat ke tanah-tanah jajahan Jepang, termasuk Indonesia.           
          Di bumi pertiwi pun, pergolakan terjadi. Namun ada optimisme yang dipendarkan oleh para mujahid sejati.           
          “Percayalah, Indonesia akan menjadi sebuah daulah Islam yang tegak di atas hukum-hukum Allah!” Sayyid Mustapha menggandeng lengan Mahmud, memasuki puing-puing Pesantren Al-Ikhwah. “Dan Ikhwan, akan menjadi pelaksananya. Lewat tangan-tangan Agus Salim, Muhammad Natsir, Ahmad Dahlan, Cokroaminoto, dan lainnya. Mereka telah lama mempersiapkan Indonesia sebagai sebuah daulah Islam.”           
          “Semoga kami bisa istiqamah, Paman. Kami akan bekerja sama membangun negeri ini menjadi persemayaman para mukminin.”           
          “Sebuah kerja berat untuk mengembalikan khilafah yang tumbang ditelan kebatilan, Mahmud. Semoga Indonesia tidak akan jatuh ke tangan orang-orang seperti Mustapha Kemal Pasya.”            
          Mata mahmud menerawang, Ia memang bukan pribumi, tetapi ia merasakan bahwa getar nadinya telah lekat dengan aroma tropis negeri berseri ini. Dan bukankah bumi Islam tidak pernah mengenal sekat geografis? Di mana hukum Allah ditegakkan, di situlah umat Islam terbentang.           
          “Ustadz!!” Tiba-tiba Saif berlarian, mendekati Mahmud dan Sayyid Mustapha. “Indonesia telah merdeka! Bung Karno dan Bung Hatta telah memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Di mana-mana orang-orang ramai memekikkan kata merdeka. Kamp-kamp Nippon diserbu, namun....”          
           “Tuan Akiro..., Tuan Akiro ditangkap oleh mereka. Ia dikeroyok dan tidak melawan. Ia dikira masih setia dengan Jepang...,” cerita Yusuf. “Sia-sia kami mencegah. Mereka sangat beringas....”
           
          Mahmud terpana, indonesia merdeka adalah sebuah kesyukuran. Namun tertangkapnya Akiro?          
          “Bergegaslah, Mahmud...! Kita harus selamatkan Akiro, saudara kita.”
           
          Langkah yang terlambat, karena pimpinan tentara rakyat telah menyerahkan Akiro Fujiwara kepada Sekutu yang mendarat di Jakarta.

                                                 * * * * *

Oktober, 1945
           
          Akiro menatap lembaran awan lembayung. Ada getir menyelinap di jiwa, membuncahkan nelangsa yang tak bertepi, Ia telah melihat kamp-kamp hunian Nippon yang lesu. Sebagian dari mereka telah mengamuk dan mengumpankan diri pada para pejuang Republik yang diproklamasikan Sukarno-Hatta, 17 Agustus silam. Jibaku, harakiri..., semestinya itu yang menjadi pendar-pendar hidupnya.           
          Ia bukan seorang pengecut! Ia seorang samurai sejati. Namun ia seorang muslim. Itulah yang membuat ia tidak berani mendahului kehendak Sang Pencipta.           
          Tentara rakyat telah menangkapnya. Dan kini, ia diserahkan kepada Sekutu sebagai tahanan perang, sebagai penjahat perang. Sungguh dengan ketinggian ilmu bertempurnya, semestinya ia mampu menghindar dari sergapan mereka. Namun ia merasa terlalu banyak menanggung dosa. Biarlah massa menghakiminya dan menjadikan dirinya sebagai tumbal kebengisan para pengikut Tenno Haika yang telah menanamkan kebencian di dada mereka. Atas kekayaan yang terkuras habis. Atas kehormatan para wanita yang terkoyak, atas ratusan ribu nyawa yang melayang. Sebuah dosa kaum yang tak akan mungkin terlupakan. Mencipta dendam berkepanjangan.
Hukuman untuknya telah ditentukan, gantung!

                                                 * * * * *

Hari eksekusi
           
          Pejabat militer sementara pasukan Sekutu berdiri dengan angkuh sebagai majikan para pecundang. Detak-detak sepatu militer yang menang perang memainkan bait-bait keganasan baru, yang entah mengapa terasa mengiris kalbu. Seorang Sersan Gurkha siap dengan tali yang akan mengerat leher tawanan, angkuh!           
          Dan itulah sang samurai yang barusan muncul dari penajara Sekutu. Ia tampak tegar, meski berselimut lunglai. Sepasang matanya berpijar, energi yang tidak tersirat pada para Nippon umumnya. Ia seorang Muslim!           
          Di luar pagar, Mahmud, Ali Syah, Sayyid Mustapha, dan Khadijah tampak panik. Mereka bernegosiasi dengan Letnan Kolonel Cristopher Lidle, komandan pasukan Sekutu di wilayah itu.           
          “Saya adalah putri William Rijkaard, seorang menteri Kolonial. Percayalah kepada saya. Akiro Fujiwara bukan seorang penjahat perang... Dia telah membelot dari pasukan Nippon dan bergabung dengan perlawanan para pejuang.”           
          “Sang penjagal maut!” Letkol Lidle tersenyum dingin, “Ia sangat terkenal di perang Pasifik. Dosa yang ia lakukan tidak terhitung. Tak ada yang bisa me nghindarkan ia dari hukuman, do you understand?”           
          Khadijah tampak pias. Perang telah membuat manusia kehilangan kemanusiaan, karena nurani sebagai pendeteksi kemanusiaan sendiri telah tercabik-cabik.           
          “Tetapi kalian saya persilakan untuk melihat proses penjatuhan hukuman untuk sang penjahat perang, Kolonel Akiro Fujiwara...!”
Seorang tentara Inggris mendorong tubuh Akiro kasar. Sang samurai kini naik ke sebuah bangku kayu. Tentara yang lain mengalungkan tali ke lehernya.
           
          Kematian, terasa begitu dekat. Namun ia pantas memuja Rabb-nya, karena telah memberikan hidayah sebelum ia datang menjemputnya. Ia semakin merasa menjadi samurai sejati dengan cara kematian yang ia pilih.           
          “Aku tidak tahu harus mengucapkan apa, kita gagal membebaskannya,” kata Khadijah dengan berkaca-kaca. Mahmud yang kini telah menjadi suaminya kembali menggenggam tangannya, erat.           
          “Kita telah berusaha....”           
          Sersan Gurkha itu menarik tali ditangannya. Pada saat itu tentara Inggris yang mengawal Akiro menendang bangku Kayu tempat berpijak Akiro.           
          Sreeeett!! Tali itu menjerat leher sang samurai yang kini berayun-ayun di angkasa. Khadijah menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami, terisak.
 
Aku sadar darahku telah tergadai
 
Karenanya aku takkan berpaling dari jalan keridhaan
 
Sesungguhnya darah yang tertumpah
 
Akan menyiram bumi yang gersang
 
Sehingga pohon keimanan merindang
 
Dan kejayaan itu teragungkan
 
Isy kariiman au mut syahidaan                                                           

                                                                      Solo, 1 April 2002

•    Pengarang :
      Afifah Afra Amatullah
•    Penerbit :
      PT ERA ADICITRA INTERMUDA
•    Tempat terbit :
      Solo
•    Tahun Terbit :
      2004